SISTEM DAN STRUKTUR POLITIK DAN EKONOMI MASA
DEMOKRASI PARLEMENTER (1950-1959)
A.
Perkembangan Politik Masa
Demokrasi Liberal
1. Sistem
Pemerintahan
NKRI pada masa Demokrasi Liberal
menggunakan sistem pemerintahan parlementer. Sistem
pemerintahan artinya, kabinet disusun menurut perimbangan kekuatan kepartaian
dalam parlemen dan sewaktu-waktu dapat dijatuhkan oleh wakil-wakil partai dalam
parlemen. Presiden hanya merupakan lambang kesatuan saja. Hal ini dikenal
sebagai zaman Demokrasi Liberal. Sistem kabinet masa ini berbeda dengan
sistem kabinet RIS yang dikenal sebagai Zaken Kabinet.
Salah satu ciri yang nampak dalam
masa ini adalah sering terjadi penggantian kabinet. Pada masa itu, situasi
politik tidak stabil karena sering terjadi pergantian kabinet. Berikut akan
diuraikan kabinet-kabinet yang pernah memerintah pada masa Kabinet Liberal.
a) Kabinet
Natsir (Masyumi) 1950-1951;
b) Kabinet
Sukiman (Masyumi) 1951-1952;
c)
Kabinet Wilopo (PNI) 1952-1953;
d) Kabinet Ali
Sastroamijoyo I (PNI) 1953-1955;
e)
Kabinet
Burhanuddin Harahap (Masyumi) 1955-1956;
f)
Kabinet Ali
Sastroamijoyo II (PNI) 1956-1957;
g)
Kabinet
Djuanda (Zaken Kabinet) 1957-1959.
baca juga: https://educationfunmore.blogspot.com/2020/09/sejarah-indonesia-kabinet-pada-masa.html
2. Sistem
kepartaian
Partai politik merupakan suatu
kelompok terorganisir yang anggotaanggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai,
dan cita-cita yang sama. Tujuan dibentuknya partai politik adalah untuk
memperoleh, merebut dan mempertahankan kekuasaan secara konstitusional. Jadi
munculnya partai politik erat kaitannya dengan kekuasaan.
Sistem kepartaian yang dianut pada
masa Demokrasi Liberal adalah multi partai. Pembentukan partai politik ini menurut Mohammad Hatta agar
memudahkan dalam mengontrol perjuangan lebih lanjut. Hatta juga menyebutkan
bahwa pembentukan partai politik ini bertujuan untuk mudah dapat mengukur
kekuatan perjuangan kita dan untuk mempermudah meminta tanggung jawab kepada
pemimpin-pemimpin barisan perjuangan. Walaupun pada kenyataannya partai-partai
politik tersebut cenderung untuk memperjuangkan kepentingan golongan daripada
kepentingan nasional. Partai-partai politik yang ada saling bersaing, saling
mencari kesalahan dan saling menjatuhkan. Partai-partai politik yang tidak
memegang jabatan dalam kabinet dan tidak memegang peranan penting dalam
parlemen sering melakukan oposisi yang kurang sehat dan berusaha menjatuhkan
partai politik yang memerintah. Hal inilah yang menyebabkan pada era ini sering
terjadi pergantian kabinet, kabinet tidak berumur panjang sehingga
programprogramnya tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya yang menyebabkan
terjadinya instabilitas nasional baik di bidang politik, sosial ekonomi maupun
keamanan.
3. Pemilihan Umum 1955
Pemilihan Umum 1955 merupakan tonggak demokrasi pertama di
Indonesia. Pelaksanaan pemilihan umum 1955 bertujuan untuk memilih wakil-wakil
rakyat yang akan duduk dalam Parlemen dan Dewan Konstituante. Pemilihan umum
ini diikuti oleh partai-partai politik yang ada serta oleh kelompok perorangan.
Pemilihan umum ini sebenarnya sudah dirancang sejak Kabinet Ali Sastroamidjojo
I dengan membentuk Panitia Pemilihan Umum Pusat dan Daerah pada 31 Mei 1954.
Namun pemilihan umum tidak dilaksanakan pada masa Kabinet Ali I karena
terlanjur jatuh. Kabinet pengganti Ali I yang berhasil menjalankan pemilihan
umum, yaitu Kabinet Burhanuddin Harahap.
Pemilihan umum 1955 dilaksanakan dalam 2 tahap. Tahap pertama
untuk memilih anggota parlemen yang dilaksanakan pada 29 September 1955 dan
tahap kedua untuk memilih anggota Dewan Konstituante (badan pembuat
UndangUndang Dasar) dilaksanakan pada 15 Desember 1955.
Dalam proses Pemilihan Umum 1955 terdapat 100 partai besar dan
kecil yang mengajukan calon-calonnya untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan
82 partai besar dan kecil untuk Dewan Konstituante. Selain itu masih ada 86
organisasi dan perseorangan akan ikut dalam pemilihan umum. Dalam pendaftaran
pemilihan tidak kurang dari 60% penduduk Indonesia yang mendaftarkan namanya
(kurang lebih 78 juta), angka yang cukup tinggi yang ikut dalam pesta demokrasi
yang pertama.
Berikut ini hasil perolehan suara pada Pemilihan Umum DPR:
|
Perolehan Pemilu Legislatif (DPR) |
Perolehan Pemilu Dewan Konstituante |
||
|
PNI |
57 kursi |
PNI |
57 kursi |
|
Masyumi |
57 kursi |
Masyumi |
57 kursi |
|
Nahdatul Ulama |
45 kursi |
Nahdatul Ulama |
45 kursi |
|
PKI |
39 kursi |
PKI |
39
ursi |
B.
Mencari
Sistem Ekonomi Nasional
1.
Pemikiran Ekonomi Nasional
Pemikiran ekonomi pada 1955 pada umumnya
merupakan upaya mengembangkan struktur perekonomian kolonial menjadi
perekonomian nasional. Hambatan yang dihadapi dalam mewujudkan hal tersebut
adalah sudah berakarnya sistem perekonomian kolonial yang cukup lama. Warisan
ekonomi kolonial membawa dampak perekonomian Indonesia banyak didominasi oleh
perusahaan asing dan ditopang oleh kelompok etnis Cina sebagai penggerak
perekonomian Indonesia. Kondisi inilah yang ingin diubah oleh para pemikir
ekonomi nasional di setiap kabinet di era demokrasi parlementer. Upaya
membangkitkan perekonomian sudah dimulai sejak kabinet pertama di era demokrasi
parlementer, Kabinet Natsir.
Berikut upaya yang dilakukan untuk
membangkitkan perekonomian di Indonesia:
a.
Gunting Syafruddin
Kebijakan
Gunting Syafruddin adalah pemotongan nilai uang (sanering). Gunting Syafruddin
digagas oleh Menteri Keuangan RIS, Syafruddin Prawiranegara yang dilaksanakan pada
tanggal 20 Maret 1950.
Tindakan
“Gunting Syafruddin” dilakukan dengan cara memotong semua uang yang bernilai
Rp2,50 ke atas hingga bernilai setengahnya. Walaupun demikian, rakyat kecil
tidak dirugikan sebab yang memiliki uang senilai Rp2,50 hanya kalangan menengah
ke atas.
b.
Sistem Ekonomi Gerakan Benteng
Merupakan
usaha pemerintah Indonesia untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi
ekonomi nasioanl dalam rangka memperbaiki perekonomian Indonesia. Sistem
Ekonomi Gerakan Benteng digagas oleh Sumitro Joyohadikusumo, Menteri
Perdagangan pada masa Kabinet Natsir.
c.
Nasionalisasi De Javasche Bank
Adalah
proses pemindahan hak kepemilikan badan usaha Belanda di Indonesia ke
pemerintahan Indonesia. Tujuan nasionalisasi De Javasche Bank adalah untuk menaikkan
pendapatan negara, menurunkan biaya ekspor, dan melakukan penghematan keuangan
negara secara drastis. Sebagai usaha menasionalisasikan De Javasche Bank, pada
19 Juni 1951, dibentuk Panitia Nasionalisasi De Javasche Bank oleh Kabinet
Sukiman.
d.
Sistem Ekonomi Ali-Baba
Sistem
ekonomi Ali-Baba diprakarsai oleh Iskaq Tjokrohadisurjo, Menteri Perekonomian
pada masa kabinet Ali Sastroamidjoyo 1. Dinamakan Ali-Baba karena Ali
menggambarkan sebagai pengusaha pribumi dan Baba sebagai pengusaha nonpribumi.
Oleh sebab itu, diperlukan adanya kerjasama antara Ali dan Baba untuk memajukan
perekonomian Indonesia.
Tujuan
dari program ini adalah agar pengusaha pribumi bekerja sama dengan pengusaha
asing, khususnya Tiongkok, dalam memajukan ekonomi Indonesia. Melalui
pelaksanaan sistem ekonomi Ali-Baba, pengusaha non pribumi diwajibkan
memberikan latihan dan tanggung jawab kepada tenaga-tenaga bangsa Indonesia
agar dapat menduduki jabatan-jabatan staf.
2.
Sistem Ekonomi Liberal
Ekonomi liberal adalah suatu sistem
perekonomian yang memberikan kebebasan sepenuhnya dalam segala bidang
perekonomian kepada setiap individu untuk mendapat keuntungan yang sangat
besar. Pada perkembangannya, sistem ekonomi liberal belum mampu meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tersendatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di
masa demokrasi liberal disebabkan oleh beberapa hal berikut ini.
a)
Setelah pengakuan kedaulatan dari
Belanda, Indonesia menanggung beban utang sesuai dengan kesepakatan dalam KMB.
Jumlah utang luar negeri Indonesia sebesar 1,5 triliun rupiah dan utang dalam
negeri sejumlah 2,8 triliun rupiah.
b)
Banyaknya gerakan pemberontakan di
berbagai wilayah Indonesia
c)
Banyaknya pergantian kabinet yang
menyebabkan tiap kabinet tidak dapat menjalankan programnya dengan maksimal.
d)
Ekspor Indonesia hanya bertumpu pada
sektor pertanian dan perkebunan.
e)
Indonesia belum memiliki pengalaman
untuk menata ekonomi secara baik.
·
Masalah Jangka Pendek Pemerintahan
a. mengurangi
jumlah uang yang beredar di masyarakat.
b. mengatasi
kenaikan biaya hidup.
Hal ini disebabkan oleh adanya ancaman
inflasi yang menyebabkan nilai mata uang Indonesia yang diikuti kenaikan harga
barang-barang kebutuhan hidup.
·
Masalah Jangka Panjang Pemerintahan
a. pertambahan
penduduk;
b. tingkat
kesejahteraan penduduk yang rendah.
Hal ini disebabkan tersendatnya
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertambahan penduduk yang tinggi serta tingkat
kesejahteraan rakyat yang rendah dapat memicu naiknya angka pengangguran dan
kemiskinan yang berujung pada terganggunya stabilitas perekonomian dan politik
Indonesia.
Kebijakan yang ditempuh pemerintah
untuk menanggulangi permasalahan tersebut di antaranya adalah :
a)
Rencana Soemitro
Yaitu
melaksanakan industrialisasi. Sasaran yang ditekankan dari program ini adalah
pembangunan industri dasar, seperti pendirian pabrik-pabrik semen, pemintalan,
karung dan percetakan. Kebijakan ini diikuti dengan peningkatan produksi,
pangan, perbaikan sarana dan prasarana, dan penanaman modal asing.
b)
Persetujuan Finansial Ekonomi (Finek)
Perundingkan
masalah finansial-ekonomi antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda berusaha
diselesaikan oleh Kabinet Burhanuddin Harahap dengan mengirim delegasi ke
Jenewa, Swiss. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Anak Agung Gede Agung. Pada 7
Januari 1956 dicapai kesepakatan terhadap rencana persetujuan Finek berikut
ini.
1)
Persetujuan Finek hasil KMB
dibubarkan.
2)
Hubungan Finek Indonesia Belanda
didasarkan atas hubungan bilateral.
3)
Hubungan Finek didasarkan pada
Undang-Undang Nasional, tidak boleh diikat oleh perjanjian lain antara kedua
belah pihak.
Namun,
Pemerintah Belanda tidak mau menandatangani persetujuan Finek sehingga
Indonesia mengambil langkah sepihak berupa pembubaran Uni Indonesia-Belanda
pada 13 Februari1956. Kehidupan Bangsa Indonesia pada Masa Awal Kemerdekaan
sampai Masa Demokrasi Liberal 18. Tujuan pembubaran Uni-Indonesia Belanda untuk
melepaskan diri dari keterikatan ekonomi dengan Belanda. Sebagai tindak lanjut
dari pembubaran Uni Indonesia-Belanda, pada 3 Mei 1956, Presiden Soekarno
menandatangani undang-undang pembatalan KMB.
c)
Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT)
RPLT
disusun pada Mei 1956 oleh Biro Perancang Negara yang dibentuk pada masa
Kabinet Ali Sastroamidjoyo II. Rancangan Undang-Undang tentang RPLT disetujui
oleh DPR pada tanggal 11 November 1958. Biro Perancang Negara bertugas
merancang pembangunan jangka panjang. Ir. Juanda diangkat sebagai menteri
perancang nasional. RPLT rencananya akan dilaksanakan antara tahun 1956-1961. Dengan
adanya perubahan situasi politik akibat ketegangan antara pusat dan daerah,
sasaran dan prioritas RPLT diubah melalui Musyawarah Nasional Pembangunan
(Munap) pada tahun 1957.
RPLT
tidak dapat berjalan dengan baik disebabkan:
1)
adanya depresi ekonomi di Amerika
Serikat dan Eropa Barat pada akhir tahun 1957 dan awal tahun 1958 mengakibatkan
ekspor dan pendapatan negara merosot;
2)
perjuangan pembebasan Irian Barat
dengan melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia
menimbulkan gejolak ekonomi;
3) adanya ketegangan antara pusat dan daerah sehingga banyak daerah yang melaksanakan kebijakan ekonominya masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar