KABINET
PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL
Berikut akan diuraikan kabinet-kabinet yang pernah memerintah
pada masa Kabinet Liberal.
A) Kabinet Natsir (Masyumi) 1950-1951;
Kabinet Natsir adalah kabinet pertama Indonesia sejak
kembali ke bentuk NKRI. Kabinet Natsir dipimpin oleh Muhammad Natsir yang
berasal dari Masyumi. Kabinet Natsir berkuasa sejak 6 September 1950 − 21 Maret
1951.
·
Program
kerja Kabinet Natsir
1. Menggiatkan
usaha keamanan dan ketenteraman.
2. Mencapai
konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan.
3. Menyempurnakan
organisasi Angkatan Perang.
4. Mengembangkan
dan memperkuat ekonomi rakyat.
5. Memperjuangkan
penyelesaian masalah Irian Barat.
·
Percapaian
kerja Kabinet Natsir
1. Indonesia
diterima sebagai anggota PBB pada 28 September 1950 sebagai anggota PBB yang
ke-60.
2. Menyelenggarakan
Sumitro Plan yang mengubah ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
3. Berlangsung
perundingan antara Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai masalah
Irian Barat pada 4 Desember 1950 walaupun tidak berjalan dengan baik.
·
Kendala/
Masalah yang dihadapi Kabinet Natsir
1. Upaya
memperjuangkan masalah Irian Barat dengan Belanda mengalami kegagalan.
2. Timbul
masalah keamanan dalam negeri, yaitu terjadi pemberontakan hampir di seluruh
wilayah Indonesia, seperti gerakan DI/TII, gerakan Andi Azis, gerakan APRA,
gerakan RMS.
·
Berakhirnya
kekuasaan Kabinet Natsir
Pada masa Kabinet Natsir, perundingan mengenai masalah Irian
Barat mengalami kegagalan dan terjadi mosi tidak percaya dari PNI menyangkut
pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI menganggap
peraturan pemerintah No. 39 thn 1950 mengenai DPRD terlalu menguntungkan
Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Natsir harus mengembalikan
mandatnya kepada presiden
B) Kabinet Sukiman (Masyumi) 1951-1952;
Kabinet Sukiman merupakan kabinet koalisi antara Masyumi
dengan PNI. Kabinet ini dipimpin oleh Sukiman Wiryosanjoyo.
·
Program
kerja Kabinet Sukiman
1. Menjamin
keamanan dan ketenteraman.
2. Mengusahakan
kemakmuran rakyat dan memperbaharui hukum agraria agar sesuai dengan
kepentingan petani.
3. Mempercepat
persiapan pemilihan umum.
4. Menjalankan
politik luar negeri secara bebas aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam
wilayah RI secepatnya.
·
Pencapaian
kerja Kabinet Sukiman
Program Kabinet Sukiman hanya melanjutkan program Natsir,
tetapi dengan beberapa perubahan prioritas, seperti dari program menggiatkan
usaha keamanan dan ketenteraman selanjutnya diprioritaskan untuk menjamin
keamanan dan ketenteraman.
·
Kendala/
Masalah yang dihadapi Kabinet Sukiman
1. Adanya
Pertukaran Nota Keuangan antara Menlu Indonesia, Soebardjo dengan Dubes AS,
Merle Cochran. Pertukaran Nota Keuangan ini mengenai pemberian bantuan ekonomi
dan militer dari pemerintah Amerika kepada Indonesia berdasarkan ikatan Mutual
Security Act
2. Adanya
krisis moral yang ditandai dengan munculnya korupsi yang terjadi pada setiap
lembaga pemerintahan dan kegemaran akan barang-barang mewah.
3. Masalah
Irian Barat belum juga teratasi.
4. Hubungan
Sukiman dengan militer kurang baik. Hal ini tampak dengan kurang tegasnya
tindakan pemerintah menghadapi pemberontakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan
Sulawesi Selatan.
·
Berakhirnya
kekuasaan Kabinet Sukiman
Berakhirya kekuasaan Kabinet Sukiman berawal dari muncul pertentangan
dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya
pada kabinet tersebut. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman
harus mengembalikan mandatnya kepada presiden.
C) Kabinet Wilopo (PNI) 1952-1953;
Kabinet ini merupakan zaken kabinet, yaitu kabinet yang
terdiri dari para pakar yang ahli dalam bidangnya. Kabinet ini dipimpin oleh
Mr. Wilopo.
·
Program
kerja Kabinet Wilopo
1. Program
dalam negeri Menyelenggarakan pemilihan umum (Konstituante, DPR, dan DPRD), meningkatkan
kemakmuran rakyat, meningkatkan pendidikan rakyat, dan pemulihan keamanan.
2. Program
luar negeri Mengubah hubungan Indonesia-Belanda menjadi hubungan internasional
biasa, pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia, serta menjalankan politik
luar negeri yang bebas-aktif.
·
Pencapaian
kerja Kabinet Wilopo
Walaupun Kabinet Wilopo gagal dalam menyelenggarakan pemilu,
Kabinet Wilopo berhasil menyusun peraturan yang menjadi landasan pemilu di
Indonesia yang kemudian disahkan pada 4 April 1953 menjadi Undang-Undang Nomor
7 tahun 1953.
·
Kendala/
Masalah yang dihadapi Kabinet Wilopo
1. Adanya
krisis ekonomi yang disebabkan oleh jatuhnya harga barang-barang ekspor
Indonesia sementara kebutuhan impor terus meningkat.
2. Terjadi
defisit kas negara karena penerimaan negara yang berkurang banyak terlebih
setelah terjadi penurunan hasil panen sehingga membutuhkan biaya besar untuk
mengimpor beras.
3. Terjadi
peristiwa 17 Oktober 1952. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh konflik intern
Angkatan Darat (AD antara Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) A.H. Nasution
dengan Kolonel Bambang Supeno yang berujung pada campur tangan DPRS ke tubuh
AD.
4. Munculnya
peristiwa Tanjung Morawa pada 16 Maret 1953 mengenai persoalan tanah perkebunan
di Sumatra Timur (Deli).
·
Berakhirnya
kekuasaan Kabinet Wilopo
Akibat peristiwa 17 Oktober 1952 dan peristiwa Tanjung Morawa
muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap Kabinet
Wilopo sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada presiden.
D) Kabinet Ali Sastroamijoyo I (PNI) 1953-1955;
Kabinet ini merupakan koalisi antara PNI dan NU. Dipimpin
oleh Mr. Ali Sastroamidjoyo dengan wakilnya, Wongsonegoro, sehingga sering
disebut Kabinet Ali -Wongso
·
Program
kerja Kabinet Ali Sastroamidjoyo
1. Meningkatkan
keamanan dan kemakmuran serta segera menyelenggarakan pemilu.
2. Pembebasan
Irian Barat secepatnya.
3. Pelaksanaan
politik bebas-aktif dan peninjauan kembali persetujuan KMB.
4. Penyelesaian
Pertikaian politik.
·
Pencapaian
kerja Kabinet Ali Sastroamidjoyo
1. Persiapan
pemilihan umum untuk memilih anggota parlemen yang akan diselenggarakan pada 29
September 1955.
2. Menyelenggarakan
Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.
·
Kendala/
Masalah yang dihadapi Kabinet Ali Sastroamidjoyo
1. Menghadapi
masalah keamanan di daerah yang belum juga dapat terselesaikan, seperti DI/TII
di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh.
2. Terjadi
peristiwa 27 Juni 1955 yang menunjukkan konflik antara AD dengan pemerintah
sipil masih berlanjut.
·
Berakhirnya
kekuasaan Kabinet Ali
NU menarik dukungan dan menterinya dari kabinet sehingga
keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus mengembalikan
mandatnya pada presiden.
E) Kabinet Burhanuddin Harahap (Masyumi) 1955-1956;
Dipimpin oleh Burhanuddin Harahap dari Partai Masyumi. Dalam
Kabinet Burhanuddin Harahap, wakil dari PNI tidak ada sehingga PNI bertindak
sebagai oposisi dalam Kabinet Burhaduddin Harahap.
·
Program
kerja Kabinet Burhanuddin Harahap
1. Mengembalikan
kepercayaan Angkatan Darat dan masyarakat kepada pemerintah.
2. Melaksanakan
pemilihan umum menurut rencana yang sudah ditetapkan dan mempercepat
terbentuknya parlemen baru.
3. Menyelesaikan
undang-undang desentralisasi.
4. Memperjuangkan
Irian Barat agar dimasukkan dalam wilayah Indonesia.
5. Politik
Kerjasama Asia-Afrika berdasarkan politik luar negeri bebas aktif.
·
Pencapaian
kerja Kabinet Burhanuddin Harahap
1. Penyelenggaraan
pemilu pertama yang demokratis pada 29 September 1955 (memilih anggota DPR) dan
15 Desember 1955 (memilih Konstituante). Pemilu ini diikuti 27 partai yang
lolos seleksi dan menghasilkan 4 partai politik besar yang memperoleh suara
terbanyak, yaitu PNI, NU, Masyumi, dan PKI.
2. Perjuangan
diplomasi dalam menyelesaikan masalah Irian Barat dengan pembubaran Uni
Indonesia-Belanda.
3. Terbinanya
hubungan baik antara Angkatan Darat dengan Kabinet Burhanuddin.
4. Menyelesaikan
masalah peristiwa 27 Juni 1955 dengan mengangkat Kolonel A.H. Nasution sebagai
Staf Angkatan Darat pada 28 Oktober 1955
·
Kendala/Masalah
yang dihadapi Kabinet Burhanuddin
1. Adanya
ketidakpercayaan masyarakat terhadap Kabinet Burhanuddin Harahap karena yang
menunjuk formatur kabinet adalah wakil presiden Mohammad Hatta.
2. Banyaknya
mutasi dalam lingkungan pemerintahan dianggap menimbulkan ketidaktenangan di
kalangan pejabat negara.
·
Berakhirnya
kekuasaan Kabinet Burhanuddin
Kabinet Burhanuddin Harahap mengembalikan mandatnya seiring
dengan berakhirnya pemilu maka tugas kabinet Burhanuddin dianggap selesai.
F) Kabinet Ali Sastroamijoyo II (PNI) 1956-1957;
Kabinet ini merupakan hasil koalisi 3 partai, yaitu PNI,
Masyumi, dan NU. Dipimpin oleh Ali Sastroamidjoyo dengan wakilnya Mohammad Roem
dan Idham Chalid.
·
Program
kerja Kabinet Ali Sastroamidjoyo II
1. Membentuk
program pembangunan lima tahun.
2. Menitikberatkan
perekonomian pada kebutuhan rakyat jelata dan berusaha memenuhi kebutuhan
primer.
3. Memperjuangkan
penegakan kedaulatan Indonesia di Irian Barat.
4. Membentuk
daerah-daerah otonomi dan mempercepat terbentuknya anggota-anggota DPRD.
5. Menyehatkan
perimbangan keuangan negara.
6. Mengusahakan
pembatalan KMB.
7. Menjalankan
politik luar negeri bebas aktif.
8. Melaksanakan
keputusan KAA
·
Pencapaian
Kerja Kabinet Ali Sastroamidjoyo II
Pencapaian kerja Kabinet Ali Sastroamidjoyo II adalah
pembatalan seluruh perjanjian KMB.
·
Kendala/Masalah
yang dihadapi Kabinet Ali Sastroamidjoyo II
1. Muncul
kekacauan di daerah yang mengarah pada gerakan separatisme yang ditandai dengan
pembentukan dewan militer seperti Dewan Banteng di Sumatra Tengah, Dewan Gajah
di Sumatra Utara, Dewan Garuda di Sumatra Selatan, dan Dewan Manguni di
Sulawesi Utara.
2. Memuncaknya
krisis di berbagai daerah karena pemerintah pusat dianggap mengabaikan
pembangunan di daerahnya.
3. Pembatalan
KMB oleh presiden menimbulkan masalah baru khususnya mengenai nasib modal
pengusaha Belanda di Indonesia. Banyak pengusaha Belanda yang menjual
perusahaannya pada orang Cina karena memang merekalah yang kuat ekonominya.
4. Timbulnya
perpecahan antara Masyumi dan PNI. Masyumi menghendaki agar Ali Sastroamidjoyo
menyerahkan mandatnya sesuai tuntutan daerah, sedangkan PNI berpendapat bahwa
mengembalikan mandat berarti meninggalkan asas demokrasi dan parlementer.
·
Berakhirnya
kekuasaan Kabinet Ali Sastroamidjoyo II
Mundurnya sejumlah menteri dari Partai Masyumi membuat
kabinet Ali Sastroamidjoyo II jatuh dan menyerahkan mandatnya pada presiden.
G) Kabinet Djuanda (Zaken Kabinet) 1957-1959.
Kabinet Djuanda dibentuk karena kegagalan Konstituante dalam
menyusun UUD pengganti UUDS 1950 serta terjadinya perebutan kekuasaan antara
partai politik. Kabinet ini dipimpin oleh Ir. Juanda, tetapi Presiden Soekarno
sendiri yang menjadi formatur kabinetnya. Kabinet ini dikenal sebagai zaken
kabinet.
·
Program
kerja Kabinet Djuanda
Program kerja Kabinet Djuanda disebut Pancakarya sehingga
sering juga disebut sebagai Kabinet Karya. Berikut ini adalah program
Pancakarya.
1. Membentuk
Dewan Nasional.
2. Normalisasi
keadaan Republik Indonesia.
3. Melancarkan
pelaksanaan pembatalan KMB.
4. Perjuangan
pengembalian Irian Jaya.
5. Mempercepat
proses pembangunan.
·
Pencapaian
kerja Kabinet Djuanda
1. Mengatur
kembali batas perairan nasional Indonesia melalui Deklarasi Djuanda yang
mengubah batas laut Indonesia dari 3 mil menjadi 12 mil.
2. Terbentuknya
Dewan Nasional sebagai badan yang bertujuan menampung dan menyalurkan
pertumbuhan kekuatan yang ada dalam masyarakat dengan presiden sebagai ketuanya
sebagai titik tolak untuk menegakkan sistem demokrasi terpimpin.
3. Diadakan
Musyawarah Nasional Pembangunan untuk mengatasi masalah krisis dalam negeri,
tetapi tidak berhasil dengan baik.
·
Kendala/
Masalah yang dihadapi Kabinet Djuanda
1. Kegagalan
menghadapi pergolakan di daerah sebab pergolakan di daerah semakin meningkat.
Hal ini menyebabkan hubungan pusat dan daerah menjadi terhambat. Munculnya
pemberontakan seperti PRRI/Permesta.
2. Keadaan
ekonomi dan keuangan yang semakin buruk sehingga program pemerintah sulit
dilaksanakan. Krisis demokrasi liberal mencapai puncaknya.
3. Terjadi
peristiwa Cikini, yaitu peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden
Soekarno di depan Perguruan Cikini pada 30 November 1957.
·
Berakhirnya
kekuasaan Kabinet Djuanda
Kekuasaan Kabinet Djuanda berakhir saat Presiden Soekarno mengeluarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959. Mulailah babak baru sejarah RI, yaitu Demokrasi Terpimpin.
